Kualitas Dunia Pendidikan ??
Sekolah di Lereng Gunung Sumbing
Tahun Lalu 100% Lulus, Sekarang Tak Satu Pun Lulus
Magelang, CyberNews. Prestasi Madrasah Aliyah (MA) Raodlotul Ulum Kaliangkrik, Kabupaten Magelang tahun ini turun drastis. Jika tahun lalu mereka bisa meluluskan 100 % siswa tahun ini sebaliknya. 100 % siswa MA yang terletak di lereng Gunung Sumbing ini tidak lulus.
Kampus MA Raodlotul Ulum Kaliangkrik ini terletak di Dusun Mranggen, Desa Selomoyo. Lokasi kampus ini terjepit di antara padatnya permukiman penduduk. Hampir tidak ada jarak antara rumah satu dengan lainnya. Dusun dengan 60 KK ini memang tidak seberapa luas karena terletak di puncak bukit dan diapit dua sungai.
Sekilas tidak terlihat kampus MA Raodlotul Ulum adalah sebuah sekolahan. Pasalnya, kampus berada di belakang rumah pendiri yakni alm KH Mahmudi. Barulah setelah pintu seng dibuka terlihat bangunan sekolah. MA ini hanya memiliki satu lokal bangunan seluas 6 x 18 m dan dibagi tiga kelas.
Bangunan dibuat dua lantai, di mana lantai satu untuk asrama siswa dan lantai dua untuk ruang kelas. Jumlah siswanya juga tidak banyak. Total hanya ada 30 siswa. Perinciannya, kelas I 17 siswa, kelas II lima siswa dan kelas III delapan siswa.
Dari delapan siswa kelas III ini semuanya tidak lulus UN 2010. Mereka rata-rata gagal untuk mapel Ekonomi (2 siswa), Matematika (5 siswa) dan Bahasa Inggris (7 siswa). “Kami sebenarnya sudah mempersiapkan baik-baik namun ternyata hasilnya di luar dugaan,” kata Kepala Sekola Kholil Baedhowi SPd kepada Suara Merdeka, Rabu (28/4).
Minim Fasilitas
Fasilitas sekolah ini memang kurang memadai. Selain ruang kelas minim, koleksi buku perpustakaan sangat terbatas. Jangankan internet, komputer yang ada juga sudah ketinggalan jaman. Itu pun hasil urunan alumni dan swadaya yayasan.
Jangan berpikir ada laboratorium dan perlengkapan multi media di sekolah ini. Untuk olah raga saja mereka menumpang di halaman rumah penduduk. “Kami memang membiayai sekolah ini secara mandiri. Selama ini tidak pernah ada bantuan dari pemerintah atau LSM. Kami pernah didata tapi tidak ada tindak lanjut,” kata Ketua Yayasan LPP MA Raodlotul Ulum Ny Mahmudi.
Selama ini, hasil pembayaran SPP siswa bahkan tidak cukup untuk membiayai operasional pendidikan. Dari 30 siswa, total uang SPP hanya terkumpul Rp 12 juta dalam setahun. Padahal untuk biaya gaji guru dan operasional pendidikan selama satu tahun paling tidak dibutuhkan anggaran Rp 20 juta.
Kekurangan dana ini ditanggung oleh para donatur tetap seperti sejumlah toko kitab, toko makanan dll. Selain itu, pihak sekolah juga menerima sumbangan dari warga dan alumni secara sukarela. Dengan pendapatan seperti itu, pihak yayasan tidak sanggup menggaji guru secara memadai.
Bayangkan untuk seorang guru dengan gelar sarjana dan punya masa pengabdian bertahun-tahun hanya digaji antara Rp 50 ribu sampai Rp 90 ribu sebulan. Seorang kepala sekolah hanya digaji Rp 150 ribu. “Namun nyatanya tetap berjalan Mas. Ada guru dari Borobudur ya tetap dilakoni tanpa mengeluh,” kata Ny Mahmudi.
Dijelaskan tahun lalu, Ujian Nasional (UN) MA Raodlotul Ulum masih menumpang di sekolah lain. Namun setelah berhasil lolos akreditasi, mereka bisa menggelar UN mandiri. Sayangnya, hasil UN justru berbalik 180 derajat. Jika tahun lalu 100 persen siswa lulu tahun ini tak ada siswa yang lulus UN.
Siswa MA Raodlotul Ulum ini berasal dari berbagai daerah seperti Magelang, Temanggung dan bahkan Flores (NTT). Padahal lokasi kampus sangat terpencil. Untuk bisa sampai ke lokasi harus menempuh jarak sekitar 40 km dari pusat kota Kabupaten Magelang di Kota Mungkid.
Sampai tanjakan Siglawah kondisi jalan masih relatif nyaman. Namun begitu masuk jalan menuju Desa Semoloyo kondisinya 100 persen berubah. Jalan aspal yang ada sudah mengelupas di sana-sini. Di beberapa bagian bahkan berlubang dalam. Jalan sulit dilewati karena kontur tanah yang berbukit-bukit sehingga banyak tanjakan ataupun turunan tajam. Jalan ini kurang lebih sejauh 4 km.
Kita harus ekstra hati-hati sesampainya di depan Balai Desa Selomoyo. Pasalnya, jalan ambles dua meter sehingga tinggal tersisa satu meter. Untuk lewat kita harus menaiki jembatan bambu. Namun ini belum seberapa karena sesampainya di tanjakan Mranggen kita harus melewati jalan berbatu satu kilo meter lagi di tengah pematang sawah.
Boleh saja sekolah ini terletak di lokasi terpencil. Namun para siswa mereka memiliki semangat baja. “Jika saya lulus UN nanti saya takkan kemana-mana. Saya akan mengabdikan hidup saya untuk mengajar lagi di sekolah ini,” kata Nazar Miftahudin.
Menurut Nazar ia paling sulit memahami soal listening Bahasa Inggris. Hal ini karena suaranya kurang jelas. “Antara materi Uji Coba UN dan UN sesungguhnya juga beda sekali. Ini yang membuat kami kesulitan,” tambah siswa lainnya, Puji Lestari.
( MH Habib Shaleh /CN13 )
http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2010/04/28/53203/Tahun-Lalu-100-Lulus-Sekarang-Tak-Satu-Pun-Lulus
Baca Juga
- Lusa, Siswa SD/MI/SDLB Ikuti UASBN
- Kemenag akan Pantau MA Raudlotul Ulum
- KPAI: Ujian Nasional Bukan Alat Ukur Akurat
- Banyak Siswa tidak Lulus UN Bahasa Indonesia
- Mayoritas Siswa Gagal UN di Mapel Bahasa Indonesia
- UGM Siap Tampung Siswa yang Berbekal STTB
- Jadwal Kacau, Penyebab Nilai UN Anjlok
- Sekolah Tak Lulus UN 100%
- Sekolah Gencarkan Pelatihan Soal Mapel UN
- Sultan Kecewa Banyak Siswa Tidak Lulus
- Ujian Ulangan Butuh 2.520 Soal
- Siswa Lebih Baik Fokus Hadapi UN Ulangan
- Hanya Tujuh SMA yang Luluskan 100%
- Target Kelulusan UN di Kudus Belum Terpenuhi
- Kesenjangan Materi Ujian Sebabkan Penurunan Kelulusan UN







nice sharing sir
nice good too…